Kondisi ini biasanya terkait dengam penjelasan logis yang ia peroleh, “Kucing tidak suka dimainkan ekornya, jadi ia mencakarmu! Kalau kamu tidak memainkan ekornya kamu tidak akan dicakar!” Tetapi ada juga yang kemudian menjadi trauma. Akibatnya, setiap ada kucing, ia akan gelisah, bahkan berteriak sambil berlari ketakutan.

BEBERAPA PEMICU KETAKUTAN

Tak hanya pengalaman buruk beberapa hal lain bisa memicu anak menjadi takut terhadap binatang.

– Selalu ditakut-takuti. Pola asuh yang kurang tepat dapat membuat anak membangun persepsi yang salah terhadap lingkungannya. Anak yang selalu dilarang berdekatan dengan binatang karena orangtua takut anak menjadi kotor lalu tertular kuman, misal. Anak jadi sering ditakuttakuti. “Awas nanti Kakak dipatuk burung!”. Kalau ditakut-takuti seperti ini tak heran kalau anak menjadi takut dengan burung.

– Menurun dari orangtua. Prasekolah belajar dari lingkungan. Demikian pula jika Mama atau Papa takut pada hewan tertentu. Kecemasan kita akan dilihat oleh anak. Mama yang selalu berteriak saat melihat burung, misalnya akan memunculkan persepsi pada anak bahwa burung adalah binatang berbahaya yang perlu dihindari. Tanpa ada penjelasan bahwa burung sebenarnya hewan jinak, ketakutan anak biasanya bisa terbawa hingga ia besar.

– Karakter anak. Anak dengan karakter pencemas umumnya akan mudah panik bila melihat sesuatu yang baru, termasuk binatang. Anak seperti ini akan mudah takut ketika melihat burung beo yang bisa bersuara, kucing yang sedang bermain cakar-cakaran bersama temannya, ayam yang tengah berkokok keras, dan sebagainya.

JANGAN SAMPAI GANGGU AKTIVITAS

Ketakutan, terutama trauma pada hewan tertentu, perlu segera diatasi. Tanpa ada penanganan dikhawatirkan trauma dalam diri anak bisa mengganggu aktivitasnya, terutama yang terkait dengan aktivitas di luar ruang. Misal, anak jadi tak mau diajak berjalan-jalan di taman kompleks lantaran takut dipatuk ayam lagi. Kondisi ini lama-lama dapat memengaruhi kemampuannya dalam bersosialisasi dan kecerdasannya. Cara mengatasinya tentu perlu disesuaikan dengan kondisi ketakutannya, apakah bersifat ringan, sedang, atau berat.

Demi lolos tes masuk universitas, berikan anak bekal sejak dini. Lembaga belajar masuk universitas luar negeri adalah pilihan tepat untuk anak.