– Ketakutan Ringan Ini ketakutan normal. Contoh, anak yang takut pada ayam yang tampak “agresif”. Biasanya ayam mudah marah jika baru menetaskan anak-anaknya.

Yang perlu dilakukan:

* Jauhkan anak dari hewan yang dapat membayakannya (pada kasus ini ayam).

* Buat anak merasa nyaman. Jelaskan pada anak bahwa ayam tersebut sedang meliindungi anaknya yang masih kecil-kecil, ia tidak mau ada yang mengganggu. “Kalau ia tak diganggu pasti ia tidak akan mengganggu kita,” misalnya. – Ketakutan Sedang Biasanya ketakutan ini muncul karena anak mengalami kejadian yang tidak mengenakkan yang membuatnya trauma. Namun traumanya masih dalam taraf ringan. Misalnya, takut terhadap kucing karena kucing tersebut pernah mencakarnya.

Gejala: Ketika berdekatan dengan hewan yang ditakuti (kucing, misalnya), akan muncul rasa waswas, gemetaran, gelisah, takut, namun ia masih mampu dan terus berusaha mengontrolnya.

Yang perlu dilakukan:

* Berceritalah tentang hewan yang ditakutinya itu. Ciptakan berbagai karakter lucu dan baik hati; seekor kucing yang nakal namun senang membantu, atau burung yang centil dan cantik. Karakter-karakter positif yang kita ciptakan tentang hewan itu, sedikit banyak dapat merubah persepsi anak pada binatang yang semula ditakutinya itu.

* Manfaatkan buku-buku sains bergambar tentang hewan yang banyak dijual di toko buku. Bukubuku itu bisa membantu anak menyadari bahwa sebenarnya kucing, ayam, burung, dan sebagainya adalah hewan jinak yang sebenarnya tidak perlu ia takuti.

– Ketakutan Berat Biasanya terjadi karena ada trauma yang membekas hebat.

Gejala:

* Biasanya anak tak hanya gemetar ketika berdekatan dengan binatang yang ditakuti itu tetapi juga pucat pasi, menangis, dan berteriak-teriak.

* Jangankan berdekatan, melihat dari jauh saja dia sudah sangat ketakutan.

* Anak sulit mengatasi ketakutannya sampai mengamuk, tantrum, dan lainnya.

* Ketakutannya berlangsung cukup lama meski binatang itu sudah tidak tampak.

Yang perlu dilakukan: Kejadian traumatis seperti ini umumnya butuh waktu untuk menghilangkannya dan biasanya sudah membutuhkan bantuan psikolog. Untuk menghilangkan trauma yang dialami anak, beberapa terapi akan dilakukan, seperti, bermain dengan boneka kucing, hingga secara bertahap mendekatkan anak dengan kucing.

Simak juga situs merawat anak dan parenting untuk lebih memahami anak secara menyeluruh.