5 Kemungkinan Anak Benci Menulis dan Solusinya

Tidak melulu membaca dan menggambar, menulis pun merupakan pekerjaan selama sekolah. Bahkan, meskipun tidak terdapat dalam kurikulum edukasi prasekolah dan tidak disarankan, terdapat sekolah PAUD dan TK yang masih mengajarkannya. Sayangnya, ini menciptakan anak benci menulis.

Bahkan, ketika udah masuk SD pun, anak pun semakin tidak menyukai pekerjaan ini. Padahal, mencatat merupakan pekerjaan yang bermanfaat. Di samping menyeimbangkan koordinasi benak kiri dan kanan, mencatat dapat menambah ketrampilan kognitif, memori, dan kreatifitas. Bagaimana teknik menangani masalah anak benci menulis?

Inilah lima (5) bisa jadi anak benci mencatat dan solusinya:

Rasa tidak percaya diri dan fobia salah

Ini reaksi normal https://www.studybahasainggris.com/ anak-anak masing-masing kali mencoba pekerjaan baru. Sesungguhnya, anak tidak membenci menulis. Mereka melulu perfeksionis, takut mengerjakan kesalahan, sampai-sampai ditertawakan rekan sekelas yang lebih dapat atau dimarahi guru.

Solusi: sesuaikan cara pelajaran mencatat dengan umur anak. Bila masih di bawah lima tahun, berikan pekerjaan mengenal huruf secara bertahap. Misalnya: mulai dari visual (mengenalkan gambar-gambar huruf), auditori (belajar menyampaikan bunyi huruf), sampai mewarnai huruf.

Semakin meningkatnya usia, barulah anak mulai pelan-pelan diajarkan guna menulis. Orang tua maupun pengajar memang mesti bersabar dengan proses ini.

Masalah koordinasi pada unsur tubuh kanan dan kiri

Mengapa anak benci menulis? Jika ditanya, belum pasti mereka dapat menjawab. Bisa jadi mereka melulu beralasan: “Pokoknya tidak suka.”

Anak kendala memegang bolpoin? Menulisnya lambat dan kadang dengan tangan gemetar? Bisa jadi dia punya masalah koordinasi.

Solusi: coba simaklah gerak tubuh anak. Bila anak dapat menggerakkan tangan dan kaki di kanan dan kiri bersamaan, berarti dua sisi benak mereka terkoneksi dengan baik. Namun bila anak hanya dapat mengayunkan kaki dan tangan di satu sisi, berarti mereka belum siap belajar menyimak maupun menulis.

Terlanjur kejangkitan gawai (gadget)

Anak telah mengenal huruf-huruf dengan baik. Anak pun sudah dapat membaca dengan lancar. Yang jadi masalah, sampai kini mereka tetap belum lancar pun menulis. Setelah dilihat, ternyata semenjak kecil mereka telah terbiasa memegang gawai, sampai-sampai jadi malas saat diajak menulis.

Solusi: mulai kurangi kelaziman si kecil memegang ponsel pintar. Bukannya tidak mengizinkan mereka sama sekali, melulu membatasi. Buatlah perjanjian dengan anak. Misalnya: bila mau mencatat minimal sejumlah baris atau separuh halaman per hari, barulah mereka boleh bermain gawai.

Merasa tidak punya destinasi atau ilham untuk menulis

Ini pun yang menjadi dalil anak benci menulis. Meskipun dengan iming-iming nilai bagus di sekolah, anak merasa tidak punya destinasi atau belum merasakan guna menulis. Di samping itu, dapat jadi mereka kendala dalam mencari ilham untuk menulis.

Solusi: Anda dapat menunjukkan misal penulis cilik yang berhasil merilis kitab cerita karangan mereka. Pastinya, bakal ada kebanggan sendiri bila anak sukses mengikuti jejak pengarang cilik tersebut.

Untuk inspirasi, anak dapat memulai dari yang sangat sederhana, laksana hal-hal yang dilihatnya masing-masing hari. Anak juga dapat memulai dari mencatat tentang kejadian sehari-hari, seperti ketika makan bareng orang tua atau bermain dengan fauna peliharaan.

Memiliki keperluan khusus

Selain terlihat kesal masing-masing kali diminta menulis, artikel tangan anak ingin terbolak-balik. Misalnya: huruf ‘b’ jadi ‘d’. Di samping itu, anak pun kesulitan ketika membaca. Bisa jadi anak punya keperluan khusus, laksana disleksia misalnya.

Solusi: https://www.bahasainggris.co.id/ di samping harus menjalani terapi khusus, anak pun harus tetap dilazimi untuk menulis. Di samping itu, tidak boleh sampai anak berkecil hati. Ingatkan pun kemampuannya yang lain, laksana misalnya: jago berenang atau dapat menggambar.